Panggilan Kyai ditanah Betawie
Habyby, 190723. Dimajalah berita militer Republik Indonesia edisi bulan lalu ada berita menarik dihalaman 100 tentang seorang ulama nasional sekaligus pejuang besar negeri ini.
Berita dibuka dengan foto full tokoh tersebut satu halaman sambil duduk memegang tongkat coklat kehitaman, wajahnya begitu nyaman terlihat, bekas air wudhu terlihat jelas disana
Beliau lahir 15 juli 1914 disebuah desa penuh sawah dan ayahnya setiap hari disana. Setelah berumur 7 tahun beliau berguru pada dua guru, ruh ruh keislaman didapat darinya. Dari ulama terkenal Betawi beliau juga mendapatkan ilmu ilmu, termasuk ilmu bela diri, bekal utama dimasa depan melawan bangsa kafir penjajah dan para londo ireng.
Beliau termasuk Rakus dalam ilmu, maka tak cukup belajar sampai Cipinang Muara, meski dengan biaya milik orang lain, ditahun 1934 beliau berlayar menuju kota Mekah ke Madrasah Darul 'ulum, diantara gurunya adalah Syekh Ali Al Maliki.
Disana beliau bukan sebatas asyik bercengkrama dengan buku dan guru guru, namun juga aktif organisasi, himpunan pelajar Indonesia dan Betawi adalah buktinya. Buah dari keprihatinan melihat kondisi tanah air tercintah. Habis diperah bangsa bangsat kafir penjajah.
Setelah merasa cukup menuntut ilmu selama 6 tahun, akhirnya beliau kembali ketanah air dan mendirikan Pondok Pesantren. Beliau selalu mengajarkan muridnya untuk selalu cinta tanah air dan anti penjajah, meski harus menahan lapar dan dahaga.
Ditahun 1950 di alun alun Bekasi beliau bersama teman temannya mengadakan unjuk rasa besar besaran, agar Bekasi keluar dari negara Pasundan dan bergabung kembali ke Republik Indonesia.
Dalam bidang pendidikan dan agama, beliau adalah pembentuk forum komunikasi ulama se Jawa Barat cikal bakal Majelis Ulama Indonesia. Beliau tipe ulama yang mampu menyatukan setiap potensi anak bangsa, dengan segala kelebihan dan kekurangan.
Beliau wafat pada tanggal 3 Mei 1992, tepat pada usia 78 tahun, setelah sebelumnya sakit cukup lama dengan meninggalkan 14 buah hati, 5 putra dan 9 putri dengan dua bidadari.
Ada cerita unik tentang panggilan Kyai ditanah Betawie, dalam tradisi tanah Betawie sesungguhnya tidak ada istilah sebutan Kyai, sebutannya adalah Mualim dan Guru. Dalam catatan wartawan senior Adam Malik mantan Wakil Presiden. Ini dimulai awal tahun 1945, saat Adam Malik mengantar seorang tokoh pergerakan sekaligus wartawan Surabaya untuk keliling Jakarta , yaitu Bung Tomo.
Dalam peristiwa 10 september 1945 di Surabaya, ia menyemangati warga Surabaya untuk bertempur habis habisan, Merdeka atau Mati. Beliau juga sering menyebut sepak terjang Kyai Haji Noer Alie, untuk membakar semangat arek arek Suroboyo. Dari sinilah menurut mantan wakil presiden ketiga. Panggilan Kyai di tanah Betawie dimulai.
Mohon maaf bila tak layak & tak sopan
Menjura